Kamis, 13 Februari 2014

Senja..



Senja. Semburat warna jingga di penghujung hari. Menyilaukan mata, memancarkan cahaya keindahan. Sungguh indah.
Sore itu aku termenung dalam diam, menatap indahnya senja yang diam-diam mulai bersembunyi di balik kegelapan. Aku kecewa, mengapa senja meninggalkanku dalam gelap, tanyaku dalam hati.
Sementara ku terpaku membisu di antara pohon-pohon belakang rumah menengadah ke atas seraya berharap cahaya senja kembali datang. Selang beberapa menit cahaya itu tak kunjung datang, aku kembali kecewa.
Begitulah sekilas harapanku saat itu, semua yang terjadi seakan semuanya salah, semuanya mengecewakan.
--
Sebenarnya tak ada yang salah dalam perjalanan senja, memang seharusnya senja pergi berganti malam. Hanya saja perasaanku yang salah saat itu. Entah apa yang merasuki pikiranku saat itu, semua yang terjadi seakan salah dalam teoriku.
Melihat aku seperti orang yang kehilangan harap dan tujuan, langit seakan mendadak mengerti. Perlahan-lahan, sang langit mengganti senja yang hilang dengan memantulkan jutaan cahaya bintang yang tak kalah indah ke dalam lensa mataku.
--
Tiba-tiba aku merasa semua kembali normal, semua yang salah kembali benar. Dan aku kembali menjadi diriku, dalam teoriku.
Lebih dari yang terlihat, bintang lebih indah dari senja, pikirku.
Ternyata, sesuatu yang hilang takkan sepenuhnya akan hilang. Tepat pada waktunya, semua yang hilang akan cepat berganti dengan sesuatu yang lebih baru, lebih dari apa yang telah hilang. Pasti.
Dan, jika masih berkesempatan, kamu akan menjumpai kembali apa yang telah hilang itu. Kamu akan kembali menemui senja di esok hari.
Reni, Jawa Barat. 18:00